Perkembangan Pasar Modal di Dunia dan Indonesia Terkait dengan Adanya Covid-19 serta Perbandingan Keadaan Pasar Modal Sebelum dan Sesudah New Normal
Assalamualaikum Wr. Wb
Dikesempatan kali ini saya mau membahas sedikit tentang bagaimanasih keadaan pasar modal di dunia terkhusus Indonesia di tengah pandemi covid-19 yang masih terus berlanjut ini.. Apakah semakin buruk atau sudah mulai ada peningkatan?
Ayo membaca!
Perkembangan Pasar Modal di Dunia dan Indonesia Terkait dengan Adanya Covid-19
Penurunan tajam pada pasar saham hampir di seluruh bursa saham utama dunia, terjadi pada kuartal I tahun 2020 sebagai respon negatif terhadap pandemi covid-19 yang mulai menyebar di awal 2020.
Mengakhiri perdagangan saham kuartal I tahun ini, bursa amerika serikat ditutup dalam zona merah dengan kinerja kuartal yang turun -20 sampai dengan -23% untuk indeks Dow Jones dan S&P 500. Indeks Nasdaq secara kuartal yang terkoreksi -11% yang merupakan penurunan terburuk sejak krisis keuangan global tahun 2008.
Setali tiga uang dengan pasar saham di Amerika Serikat, pasar saham eropa juga membekukan kinerja kuartal terburuk sejak 2002 akibat pandemi corona virus dan lockdown nasional yang menekan aktivitas perekonomian. Sepanjang kuartal I 2020, indeks pasar saham di eropa seperti STOXX 600 dan IBEX 35 telah turun 23 sampai dengan 29%.
Lalu bagaimana dengan Indonesia?
Kinerja indeks harga saham gabungan sepanjang kuartal I juga turut mengalami penurunan yang cukup tajam. Pada kuartal I tahun 2020, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sudah terkoreksi hampir 28% menyusul aksi ambil untung investor asing sepanjang tiga bulan pertama tahun 2020, Indeks Harga Saham Gabungan sempat menyentuh level tertinggi yakni 6.325 pada 14 januari 2020 dan menyentuh posisi terendah pada level 3.937 pada 24 maret 2020 atau turun lebih dari 37% sejak awal tahun, saham-saham disektor industri dasar dan aneka industri mencatat penurunan terbesar yaitu sekitar 40%.
Tekanan juga terjadi dipasar obligasi Indonesia menyusul tekanan jual investor asing. Sepanjang kuartal I 2020 harga obligasi terkoreksi sehingga imbang hasil obligasi pemerintah, seri acuan tenor 10 tahun naik menjadi sekitar 8%.
Berdasarkan data direktorat pengelolaan pembiayaan dan resiko kementerian keuangan, pada 31 maret 2020 posisi investasi kepemilikan asing turun hampir 135 triliun rupiah menjadi 926,91 triliun rupiah.
Menurut catatan Bank Indonesia sejak isu corona merebak pada januari, terjadi pembalikan arus modal dari pasar keuangan Indonesia. Bank Indonesia sendiri telah melakukan buy back atau pembelian kembali surat berharga negara di pasar sekunder hingga mencapai 166 triliun rupiah, akan tetapi Bank Indonesia masih melihat minat investor asing terhadap instrumen investasi di Indonesia termasuk obligasi negara masih cukup tinggi terutama ditopang dengan fundamental ekonomi Indonesia yang relatif kuat dan kebijakan fiskal yang disiplin. Indonesia saat ini mendapat peringkat layak investasi dari lembaga-lembaga peringkat internasional.
Terkoreksinya harga saham dan obligasi saat ini tentunya mempengaruhi performa investasi nasabah dalam jangka pendek, akan tetapi melihat perkembangan yang ada saat ini dimana koordinasi secara global sedang dilakukan untuk menanggulangi pandemi covid-19 dan upaya-upaya penanggulangan dampak ekonomi juga telah digelontorkan oleh otoritas moneter maupun fiskal diseluruh negara-negara terdampak, maka terbuka kemungkinannya cukup luas bahwa dalam jangka menengah dan panjang performa saham maupun harga obligasi dapat kembali positif.
Perbandingan Keadaan Pasar Modal Sebelum dan Sesudah New Normal
Investor di pasar modal merespons positif dimulainya new normal yang membuka kembali aktivitas perekonomian di Jakarta, sebagaimana kota-kota lain di dunia. Indeks harga saham gabungan (IHSG) melonjak 2,48% hingga menembus kembali ke level psikologis 5.000 pada perdagangan Senin (8/6), demikian pula rupiah menguat luar biasa di bawah Rp 14.000 per dolar AS.
IHSG pada perdagangan Senin (8/6) di Bursa Efek Indonesia melanjutkan penguatan hari sebelumnya, naik 122,78 poin atau 2,48% ke level 5.070,56. Lima saham yang mencatatkan kenaikan harga tertinggi adalah saham PT Kresna Graha Investama Tbk sebesar 35% ke Rp 135, PT Asuransi Jiwa Syariah Js Mtr Abd Tbk (JMAS) melonjak 28,75% ke Rp 206, PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) meningkat 26% ke Rp 126, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) menguat 25% ke Rp 270, dan PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) naik 24,86% ke Rp 1.105 per unit.
Sejumlah faktor eksternal maupun internal menjadi pendorong IHSG, yang membuat koreksi secara year to date berkurang menjadi 19,51% hingga kemarin, setelah sempat mencapai 37,49% hingga 24 Maret lalu.
Dari global antara lain adalah penambahan pekerjaan di Amerika Serikat yang di luar ekspektasi mencapai 2,5 juta Mei 2020, serta angka pengangguran turun jadi 13,3%. Di AS dan Eropa, bisnis juga mulai dibuka kembali setelah lockdown karena pandemi Covid-19. Kerusuhan sosial di AS dan di Hong Kong serta stimulus luar biasa di negara-negara maju juga mendorong aliran likuiditas ke emerging markets. European Central Bank (ECB) juga secara mengejutkan menambah skema pembelian obligasi darurat pandemi Covid-19 sebesar 600 miliar euro dan memperpanjang penerapannya hingga pertengahan 2021.
Dari faktor internal, kepercayaan investor dalam dan luar negeri terhadap ekonomi Indonesia membaik. Pasar merespons positif kebijakan stimulus fiskal pemerintah Indonesia yang naik menjadi Rp 677,2 triliun, stimulus moneter Bank Indonesia yang meningkat ke Rp 583,8 triliun, dan stimulus restrukturisasi pinjaman dari Otoritas Jasa Keuangan yang sudah terealisasi Rp 597 triliun.
Hal ini diindikasikan dengan arus dana asing masuk meningkat, baik di pasar saham maupun Surat Berharga Negara.
Meningkatnya capital inflow tersebut membuat cadangan devisa Mei 2020 naik US$ 2,6 miliar ke US$ 130,5 miliar, dibandingkan April US$ 127,9 miliar, yang ikut mendorong rupiah menguat ke level Rp 13.956 per dolar AS.
Selain itu, defisit transaksi berjalan RI berkurang. Faktor positif lain adalah laba emiten di Bursa Efek Indonesia yang kuartal I-2020 masih baik. Ini misalnya PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, yang sampai kuartal I-2020 mengantungi laba bersih konsolidasi Rp 7,92 triliun, meningkat 9,44% secara tahunan (year on year/yoy).
Pertumbuhan laba tersebut didukung oleh pendapatan berbasis komisi (fee based income) yang tumbuh 23,95% (yoy) menjadi Rp 7,74 triliun.
Semoga bermanfaat.. Terima kasih!
Referensi:
Fadillah, Ghafur dan Nabil Alfaruq. 2020. Pasar Merespons Positif New Normal. Dikutip 12 September 2020 dari investor.id: https://investor.id/market-and-corporate/pasar-merespons-positif-new-normal.
Prudential Indonesia. 2020. Kondisi Pasar Modal pada Kuartal I 2020. Dikutip 12 September 2020 dari youtube.com: https://youtu.be/oYbTijPzCas.

Comments
Post a Comment