INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN, DJIA, STANDARD AND POOR’S INDEX, INDIKATOR PASAR OBLIGASI, VALUE LINE INDEX, INDEKS BERBOBOT SAMA
MAKALAH TEORI PASAR MODAL
“INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN, DJIA,
STANDARD AND POOR’S INDEX, INDIKATOR PASAR OBLIGASI, VALUE LINE INDEX, INDEKS BERBOBOT
SAMA”
DOSEN PEMBIMBING:
Debbi Chyntia Ovami, S.Pd., M.Si.
DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 5
1. ANJAMI NADILA 183214066
2. DINDA AUDRIA 183214009
3. VINA AMALIA SYAHPUTRI 183214013
4. M. FEBRIANSYAH DINATA 183214071
5. WAHYU RAMADHANI 183214050
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MUSLIM NUSANTARA
AL-WASHLIYAH
MEDAN
2020
KATA PENGANTAR
Pertama-tama kami panjatkan Puji dan Syukur Kehadirat Tuhan
Yang Maha Esa karena berkat dan Rahmat-Nya makalah ini dapat terselesaikan.
Tujuan kami membuat makalah ini adalah untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Teori Pasar Modal. Selain itu juga untuk meningkatkan pemahaman kami
mengenai materi ini.
Dengan membaca makalah ini kami berharap dapat membantu
teman-teman memahami materi ini dan dapat memperkaya wawasan teman-teman semua.
Walaupun kami telah berusaha sesuai kemampuan kami, namun kami yakin bahwa
manusia itu tidak ada yang sempurna. Seandainya dalam penulisan makalah ini ada
yang kurang, maka itulah bagian dari kelemahan kami. Mudah-mudahan melalui
kelemahan itulah yng akan membawa kesadaran kita akan kebesaran Tuhan Yang Maha
Esa.
Pada kesempatan ini kami mengucapkan terimakasih kepada semua
pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini dan kepada teman-teman
yang telah meluangkan waktunya untuk membaca makalah ini. Untuk itu kami selalu
menantikan kritik dan saran yang membangun dari teman-teman demi perbaikan
makalah ini.
Medan, Oktober
2020
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR.....................................................................................
DAFTAR
ISI...................................................................................................
BAB
I PENDAHULUAN.........................................................................
1.1 Latar
Belakang.........................................................................
1.2 Rumusan
Masalah.....................................................................
1.3 Tujuan
Masalah.........................................................................
BAB
II PEMBAHASAN............................................................................
2.1 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)..................................
2.2 Dow Jones Industrial Average (DJIA).....................................
2.3 Standard
and Poor’s Index......................................................
2.4 Indikator
Pasar Obligasi...........................................................
2.5 Value
Line Index......................................................................
2.6 Indeks
Berbobot Sama.............................................................
BAB III PENUTUP......................................................................................
3.1 Kesimpulan...............................................................................
3.2 Saran.........................................................................................
DAFTAR
PUSTAKA......................................................................................
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) adalah cerminan kegiatan pasar modal
secara umum. IHSG menggambarkan suatu rangkain informasi historis mengenai
pergerakan harga saham gabungan, sampai pada tanggal tertentu. Biasanya
pergerakan harga saham tersebut disajikan setiap hari berdasarkan harga
penutupan di bursa efek pada hari tersebut. Indeks tersebut disajikan untuk
periode tertentu. IHSG mencerminkan suatu nilai yang berfungsi sebagai
pengukuran kinerja suatu saham gabungan di bursa efek. Maksud dari gabungan itu
sendiri adalah kinerja saham yang dimasukkan dalam perhitungan lebih dari satu, bahkan seluruh saham yang tercatat di bursa efek
tersebut (Sunariyah, 2004).
Peningkatan IHSG menunjukkan pasar
modal sedang bullish, sebaliknya jika menurun menunjukkan kondisi pasar modal
sedang bearish. Maka, seorang investor harus memahami pola perilaku harga saham
di pasar modal. Salah satu indeks yang sering diperhatikan investor ketika berinvestasi di
Bursa Efek Indonesia adalah Indeks Harga Saham Gabungan. Hal ini disebabkan
karena indeks ini merupakan composite index dari seluruh saham yang tercatat di
Bursa Efek Indonesia. Oleh karena itu melalui pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan,
seorang investor dapat melihat kondisi pasar apakah sedang bergairah atau lesu.
Perbedaan kondisi pasar ini memerlukan strategi yang berbeda dari investor
dalam berinvestasi. Banyak faktor yang dapat memengaruhi indeks saham, antara
lain perubahan tingkat suku bunga acuan,
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah penjelasan tentang
IHSG ?
2. Apa itu DJIA?
3. Apa itu Standard and Poor’s
?
4. Bagaimana Indikator
Pasar Obligasi?
5. Apa itu Value Line Index ?
6. Apa itu Indeks Berbobot
Sama?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui tentang
IHSG.
2. Untuk mengetahui tentang DJIA.
3. Untuk mengetahui Standard
and Poor’s.
4. Untuk mengetahui Indikator
Pasar Obligasi.
5. Untuk mengetahui Value Line
Index.
Untuk
mengetahui Indeks Berbobot Sama.
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
1.
Pengertian IHSG
IHSG adalah singkatan dari Indeks Harga Saham
Gabungan. Secara internasional disebut juga dengan Indonesia Composite
Index (ICI) dan ada juga yang menyebutnya dengan IDX Composite. Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG) adalah cerminan kegiatan pasar modal secara umum. IHSG
menggambarkan suatu rangkain informasi historis mengenai pergerakan harga saham
gabungan, sampai pada tanggal tertentu.
Seperti daftar kata penting dalam buku atau
kamus, indeks saham juga berisi daftar semua saham yang diperjualbelikan di
Bursa Efek Indonesia.
2.
Manfaat IHSG
Walaupun IHSG hanyalah poin rata-rata,
mengamati pergerakan IHSG sangat bermanfaat untuk mengetahui kondisi ekonomi di
Indonesia. Ada banyak saham yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI)
dan tidak mungkin para investor melihat satu per satu pergerakan saham setiap
harinya. Di sinilah peran penting IHSG.
Para investor akan tahu kapan mereka dapat
menggelontorkan dana tambahan untuk perusahaan tertentu atau juga malah menarik
dana mereka dengan menjual saham yang mereka miliki.
Bagaimana dengan para investor pemula, apa
manfaat memahami IHSG? Bagi para trader, IHSG dapat menjadi bahan
pertimbangan untuk melakukan trading atau transaksi. IHSG
biasanya menjadi cerminan dari pergerakan saham-saham yang masuk dalam
LQ45. Memang tidak selamanya IHSG turun, saham A atau B juga ikut turun,
tapi sering kali IHSG menjadi patokan yang akurat terkait pergerakan
saham-saham likuid tersebut.
3.
Cara menghitung IHSG
Metodologi perhitungan IHSG sama saja dengan
cara menghitung indeks bursa saham lainnya di seluruh dunia, yaitu menggunakan
rata-rata berimbang berdasarkan jumlah saham di bursa atau Market
Value Weighted Average Index.
Rumus IHSG:
Indeks = (Nilai Pasar / Nilai Dasar) x 100
Nilai Dasar adalah kumulatif jumlah saham pada
hari dasar dikali dengan harga pada hari dasar. Sementara Nilai Pasar adalah
kumulatif jumlah saham yang tercatat dikali dengan harga pasar. Berikut ini
cara mencari nilai pasar:
Rumus Nilai
Pasar: Nilai Pasar = p₁q₁ + p₂q₂ + … + piqi + pnqn
Keterangan:
p = Harga
yang terjadi untuk emiten ke-i.
q =
Jumlah saham
yang digunakan untuk penghitungan indeks untuk emiten ke-i.
n = Jumlah emiten yang
tercatat di bursa efek.
4.
Cara IHSG Dapat
Berfluktuasi
Pengertian sederhana dari poin IHSG adalah nilai rata-rata
dari semua saham yang melantai di pasar bursa. Karena itu, poin IHSG akan naik
dan turun seiring dengan pergerakan harga di pasar bursa.
Harga saham sangat terpengaruh dengan kondisi internal dan eksternal
perusahaan.
a)
Internal: cashflow perusahaan
pada laporan keuangan tercatat minus.
b)
Eksternal: kebijakan
pemerintah memberi dampak negatif terhadap sektor perusahaan.
Tentu saja penurunan harga saham juga dapat
memengaruhi penurunan poin IHSG.
5. Istilah-istilah Seputar IHSG
Berikut adalah beberapa istilah yang terkait dengan IHSG.
a) BEI
Bursa Efek Indonesia merupakan gabungan dari Bursa Efek
Jakarta (BEJ) atau Bursa Efek Surabaya (BES).
Dengan tujuan untuk efektivitas operasional dan transaksi,
kedua bursa tersebut akhirnya digabungkan dan mulai beroperasi tanggal 1
Desember 2007 sebagai Bursa Efek Indonesia.
b) Saham likuid
Saham yang likuid adalah saham yang mudah diperjualbelikan.
Dengan kata lain, saham likuid adalah saham yang sering diperjualbelikan. Saham
likuid biasanya selalu memiliki antrean pembeli pada harga berapa pun saham ini
diperdagangkan.
c) Bubble
Bubble dalam istilah ekonomi digunakan untuk menggambarkan
kenaikan harga saham yang sangat cepat (bisa dalam beberapa bulan saja).
Terkadang harganya sangat tidak wajar, bahkan melebihi dari
kondisi fundamental perusahaan. Bubble bisa terjadi karena
pasar terlalu percaya pada kondisi tertentu.
d) Fluktuasi
Seperti arti fluktuasi dalam KBBI, dalam saham pun, istilah
ini berarti naik dan turunnya harga saham. Fluktuasi harga saham bisa terjadi
karena adanya mekanisme jual beli saham. Tentu saja ini merupakan hal yang
wajar.
e) Portofolio
Portofolio saham berarti kumpulan aset investasi yang berupa
saham yang dimiliki perorangan atau perusahaan.
Apakah perusahaan juga bisa memiliki saham dari perusahaan lain? Tentu saja bisa. Salah satu perusahaan Sandiaga Uno Saratoga Investama misalnya, yang memiliki saham dari perusahaan lain seperti Adaro, RS Awal Bros, Deltomed, dan lain sebagainya.
f) Likuiditas
Likuiditas dalam saham berarti ukuran
jumlah transaksi saham di pasar modal dalam periode tertentu. Semakin tinggi
frekuensi saham diperjualbelikan, likuiditas saham akan semakin tinggi.
g) Buyback
Seperti terjemahan harfiahnya, buyback berarti
membeli kembali. Jadi, buyback saham adalah aksi pembelian
kembali saham-saham perusahaan yang sudah dilepas ke publik.
Buyback dilakukan perusahaan karena beberapa alasan, misalnya
untuk memperbesar modal perusahaan. Karena jika saham yang telah dilepas di
publik dimiliki kembali ke perusahaan, saham-saham tersebut tidak perlu
mendapatkan dividen.
Hasilnya, tentu saja, laba bersih perusahaan pun naik. Laba
naik, tentu akan membuat investor tertarik, dan saham perusahaan pun ikut
naik.
h) Cut loss
Tindakan menjual kembali saham yang dimiliki dalam kondisi
rugi disebut cut loss. Tujuannya untuk menghindari kerugian yang
lebih besar. Lawan kata dari cut loss adalah hold.
i)
Bullish
Bullish sering kali disandingkan dengan kata bearish yang
berarti tren naik dan turunnya harga saham dalam periode tertentu yang ditandai
dengan optimisme atau pesimisme para investor di pasar saham.
2.2 Dow Jones Industrial Average (DJIA)
1. Pengertian DJIA
Dow
Jones Industrial Average (DJIA) adalah sebuah indeks di pasar saham yang
diciptakan oleh Charles Dow pada tahun 1896. DJIA merupakan sebuah perusahaan
yang memiliki saham publik terbesar di pasar berjangka Amerika Serikat. DJIA
juga seringkali menjadi tolak ukur atau patokan sebagai ukuran real-time dari kestabilan dan kekuatan ekonomi
Amerika Serikat.
2. Sejarah
DJIA
Dow Jones & Co didirikan pada
tahun 1882 oleh Charles Dow, Edward Jones dan Charles Bergstresser. Namun
indeks rata-rata pertamanya tidak dipublikasikan di Wall Street Journal
melainkan dipesaingnya yaitu Customers’s Afternoon Letter. Awalnya tidak
mengikutsertakan saham industrial. Fokus berada pada saham pertumbuhan pada
masa itu, mayoritas saham perusahaan transportasi. Hal ini berarti indeks Dow
Jones pertama menghitung sembilan saham perkeretaapian, perkapalan dan
perusahaan telekomunikasi. Rata-rata harga saham ini akhirnya berevolusi
menjadi Rata-rata Transportasi. Sampai pada 26 Mei 1896, Dow dibagi menjadi
indeks transportasi dan industrial, yang menciptakan apa yang kita kenal
sebagai Dow Jones Industrial Averages.
Charles Dow memiliki visi untuk
menciptakan tolok ukur indeks ini untuk melihat kondisi pasar secara umum dan
karenanya akan menolong investor dalam melihat kinerja perusahaan. Pada waktu
itu, hal ini merupakan ide revolusioner, tetapi implementasinya sangat
sederhana. Untuk menghitung indeks Dow Jones hanya dengan menambah harga
saham-saham yang ada dan dibagi dengan 11, yang merupakan jumlah saham yang ada
dalam indeks tersebut, dimasa itu.
Saat ini, DJIA adalah
tolok ukur dari saham-saham Amerika yang dianggap sebagai pemimpin dalam
ekonomi dan juga ada di Nasdaq dan NYSE. DJIA meliputi 30 perusahaan dengan
kapitalisasi besar, yang dipilih secara subjektif oleh editor Wall Street
Journal. Selama ini, perusahaan-perusahaan yang ada di indeks ini telah berubah
untuk memastikan tolok ukurnya terhadap ekonomi. Sampai saat ini, hanya General
Electric yang merupakan bagian dari sejarah awal indeks ini, yang masih masuk
ke dalam DJIA. Lainnya telah berubah-ubah.
3. Mekanisme Dow Divisor
Untuk menghitung DJIA,
semua harga saat ini dari 30 saham yang ada dalam indeks ditambahkan lalu
dibagi oleh Dow divisor, yang secara konstan terus dimodifikasi.
Sekarang coba kita
ilustrasikan, kita akan membuat sebuah indeks percontohan, namanya Mahadana
Learning Average (MLA). MLA terdiri dari 10 saham, yang memiliki total US$1,000
jika semua harga saham ditambahkan. ini artinya indeks MLA akan memiliki nilai
100 (US$1,000/10). Disini indeks pembaginya (divisor) adalah 10.
Misalkan ada sebuah
saham yang merupakan komponen MLA yang diperdagangkan di harga US$100 tetapi
melakukan stock split 2 banding 1, mengurangi harga sahamnya menjadi US$50.
Jika angka pembagi tidak berubah, kalkulasi indeks MLA akan meberikan kita
angka 95 (US$950/10). Hal ini akan menjadi tidak akurat karena sebenarnya stock
hanya merubah harga, bukan nilai dari perusahaan. Untuk mengkompromi hal ini,
kita harus menyesuaikan angka pembagi turun menjadi 9.5. Dengan ini, indeks
masih akan ada di angka 100 (US$950/9.5) dan akan lebih memberikan gambaran
akurat dari indeks saham MLA.
4. Konversi DJIA Kedalam Nilai Dolar
Untuk mengetahui
bagaimana sebuah saham akan mempengaruhi indeks DJIA, bagi perubahan harga
saham dengan angka pembagi (divisor) yang berlaku saat ini. Sebagai ilustrasi,
jika saham General Electric naik US$5, bagi dengan 0.14418073, dimana akan
menghasilakan angka 34.68. Karena itu, jika indeks DJIA naik 100 poin di hari
tersebut, GE menyumbang kenaikan sebesar 34.68 poin.
5. Metode Penghitungan Indeks
Metodelogi perhitungan
indeks Dow Jones dikenal dengan nama metode harga tertimbang. Walaupun bisa
menyesuaikan dengan adanya stocks split, kekurangan dari metode ini adalah
tidak memberikan cerminan bahwa perubahan US$1 untuk saham dengan harga US$10
lebih signifikan (dalam hal persentase) daripada perubahan US$1 pada saham
dengan harga US$100. Karena permasalahan ini, mayoritas indeks besar lainnya,
seperti S&P 500, dihitung dengan metode kapitalisasi pasar tertimbang.
2.3 Standard
and Poor’s Index
1.
Pengertian Standard and Poor’s Index
Standard and Poor Index atau yang umum dikenal sebagai indeks S&P
adalah indeks saham paling populer dan termasuk yang terbesar di Amerika
Serikat, selain NASDAQ Composite dan Dow Jones Industrial Average.
Indeks pasar saham adalah indikator mengenai kekuatan ekonomi suatu
negara. Di AS, ketiga indeks saham tersebut adalah yang paling banyak memutar
pasar saham.
Indeks S&P disusun berdasarkan nilai saham 500 perusahaan dengan
kapitalisasi pasar besar di bursa saham Amerika Serikat. Sekitar 80% nilai
total pasar saham AS termuat di indeks ini.
S&P 500 meliputi berbagai sektor, termasuk industri, energi, IT,
keuangan, hingga consumer goods. Perusahaan yang tercakup dalam indeks
di antaranya Adobe System Inc, Google, Amazon, Berkshire Hathaway, Boeing
Company, hingga Johnson & Johnson.
Indeks S&P 500 adalah akronim dari Standard & Poor’s 500,
indeks yang disusun berdasarkan nilai saham 500 perusahaan dengan kapitalisasi
pasar besar di bursa saham Amerika Serikat.
2. Kerja Indeks Standard &
Poor’s
Standard & Poor memiliki kantor cabang di
26 negara, terkenal di seluruh dunia untuk berbagai macam produk investasinya
dan patokan pertimbangan pasar saham. Berdiri dengan nama Standard Statistics
Co. pada 1923, Standard & Poor merilis indikator pasar saham pertamanya
yang kala itu memuat 223 perusahaan. Nama perusahaan ini berganti jadi Standard
& Poor’s pada 1941 setelah merger dengan Poor’s Publishing. Penggabungan
perusahaan ini juga meningkatkan indeks saham dengan muatan 416 perusahaan
sebelum mencapai angka 500 pada 1957.
Pada 2012, Standard & Poor’s kembali melakukan gebrakan. Standard and Poor Index selanjutnya menggabungkan operasi indeksnya dengan Indeks Dow Jones untuk memimpin pasar industri ini. McGraw-Hill Cos. membeli S&P ada 1966 dan pada 2016 McGraw Hill Financial mengganti namanya menjadi S&P Global. Perusahaan ini memiliki lebih dari 1.400 analis kredit dan lebih dari 1,2 juta peringkat kredit telah dikeluarkan untuk pemerintah, perusahaan, sektor keuangan, dan sekuritas. Kini Standard & Poor indikator utama analisis risiko kredit, yang mencakup berbagai industri, berbagai tolok ukur, kelas aset, dan geografi. Mereka juga mengeluarkan peringkat kredit pada utang perusahaan publik dan swasta, serta pemerintah.Rentang skalanya dari AAA hingga D. Mereka dapat memprediksi peringkat utang jangka pendek dan memberi peringkat prospek dengan tenor enam bulan hingga dua tahun.
3. Standard and Poor Index 500
Indeks S&P 500
diluncurkan pada Maret 1957. Ini adalah indeks pertama yang diterbitkan setiap
hari dan merupakan patokan umum untuk menentukan kapabilitas keseluruhan pasar
saham AS.
Standard and Poor Index terkenal lantaran
memuat indeks paling terkenal di AS: S&P 500. Indeks S&P 500 adalah
indeks yang memuat 500 perusahaan paling unggul di bursa saham Amerika Serikat.
Saham dalam indeks ini dikurasi berdasarkan kapitalisasinya.
Selain itu, komite konstituen indeks ini juga
mempertimbangkan berdasarkan faktor-faktor termasuk likuiditas, public float,
klasifikasi sektor, kelayakan finansial, dan sejarah penjualannya.
Pada umumnya, indeks ditimbang berdasarkan
kecondongan ke pasar (market-weighted) atau kecondongan ke harga (capitalization-weighted).
Karena itu, setiap saham dalam indeks diwakili secara proporsional dengan total
kapitalisasi pasar.
Dengan kata lain, jika total nilai pasar dari
keseluruhan 500 perusahan di Standard and Poor Index turun 10%, maka nilai
indeks pun ikut turun 10%.
Ketepatan dalam perkiraan kapitalisasi
menjadikan indeks ini sebagai tolok ukur kinerja untuk berbagai reksadana dan
ETF. Indeks populer lainnya yang ditawarkan S&P Global mencakup berbagai
sektor pasar dan kapitalisasi pasar berbeda.
Penawaran kapitalisasi besar dari Indeks
S&P Dow Jones meliputi S&P SmallCap 600, S&P MidCap 400, S&P
Composite 1500, dan S&P 900. Masing-masing indeks Standard and Poor Index
ini mewakili pasar saham berdasarkan subsektornya.
2.4 Indikator
Pasar Obligasi
Pasar Obligasi Berpotensi Menguat Terbatas, Investor
Disarankan Wait and See.
Pasar obligasi pada perdagangan hari ini, Rabu (8/1/2020) diperkiakan
menguat terbatas sehingga investor disarankan untuk wait and see.
Dikutip dari hasil risetnya, Rabu (8/1/2020), Direktur Riset Pilarmas
Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan kondisi pasar hari ini
diperkirakan menguat terbatas. Hal itu, dilatarbelakangi tensi geopolitik yang
meningkat sehingga ruang penguatan harga surat utang menjadi lebih
sempit. Oleh karena itu, dia merekomendasikan agar investor memilih wait
and see. Adapun, indikator pasar yang harus dicermati yakni pergerakan
harga di rentang 50 basis poin hingga 75 basis poin.
“Kami merekomendasikan wait and see hari ini. Apabila
pergerakan pasar obligasi bergerak melebihi rentang harga 50–75 bps, maka akan
menjadi arah pergerakan pasar obligasi hingga hari ini,” ujarnya.
Beberapa sentimen yang memengaruhi pergerakan harga hari ini yaitu pertama,
konflik geopolitik Amerika Serikat (AS)-Iran turut memengaruhi kebijakan Bank
Sentral AS. Meskipun sebelumnya telah diungkapkan bahwa suku bunga acuan tak
akan mengalami perubahan pascapemangkasan suku bunga acuan sebanyak tiga kali
pada 2019, masih ada peluang perubahan sikap Bank Sentral AS guna memitigasi
dampak konflik tersebut.
Kedua, China mendesak AS untuk berdialog
dengan Iran daripada harus melancarkan serangan. Di sisi lain, Iran sedang
menilai 13 skenario pembalasan terhadap AS sebagai respons pembunuhan Qassem
Soleimani.
Terakhir, realisasi penerimaan pajak mencapai Rp1.332,1 triliun
sepanjang 2019, atau 84,4% dari target yang ditenggat dalam anggaran pendapatan
dan belanja negara (APBN). Dengan demikian, penerimaan pajak hanya tumbuh 1,4%
dibandingkan dengan tahun sebelumnya, dengan shortfall sebesar Rp245,5
triliun.
Capaian lain pada 2019 yakni dari sisi penerimaan negara bukan pajak
(PNBP) Rp405 triliun atau 107,1% dari target APBN 2019. Meski telah melampaui
target, realisasi PNBP sebenarnya lebih rendah dibandingkan dengan pencapaian
tahun sebelumnya, yang mencapai Rp409,3 triliun.
Beberapa hal penting dalam capaian tersebut yakni pertama,
harga rata-rata minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP)
sepanjang 2019 yang hanya sebesar US$62 per barel, lebih rendah dari 2018
yang mencapai US$67,5 per barel.
Kedua, nilai tukar rupiah pada 2019 justru
lebih kuat dibandingkan dengan 2018, sehingga memengaruhi realisasi PNBP Sumber
Daya Alam (SDA) Migas. Pada 2019, nilai tukar rupiah secara rerata
mencapai Rp14.150 per dolar AS, lebih kuat dari tahun sebelumnya, yang mencapai
Rp14.247 per dolar AS.
Ketiga, kinerja produksi siap jual atau lifting
minyak pada 2019 tercatat lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya
yakni lifting minyak tercatat mencapai 754.000 barel perhari, lebih
rendah dari 2018 yang sebesar 778.000 barel perhari.
2.5 Value
Line Index
Jumlah total perusahaan dalam Indeks Komposit
Garis Nilai berada di dekat 1681, dan terdiri dari perusahaan yang sama dengan
The Value Line Investment
Survey, tidak termasuk dana tertutup. Indeks
Komposit Garis Nilai memiliki dua bentuk, Indeks Komposit Geometris Garis Nilai
atau Indeks Komposit Aritmatika Garis Nilai, seperti yang ditentukan di bawah
ini.
Semua perusahaan dalam Indeks Komposit Garis
Nilai terdaftar secara publik di salah satu bursa utama yang tercantum di bawah ini. Jumlah perusahaan dalam Indeks Komposit Garis Nilai
berfluktuasi berdasarkan faktor-faktor termasuk: penambahan atau penghapusan
daftar perusahaan di bursa itu sendiri, merger, akuisisi, kebangkrutan, dan
keputusan cakupan yang dibuat oleh Garis Nilai untuk Indeks Gabungan Garis
Nilai. Keputusan Value Line mengenai perusahaan
mana yang akan dimasukkan dilakukan dengan maksud untuk menciptakan
representasi yang luas dari pasar ekuitas Amerika Utara.
Selain itu, jumlah perusahaan yang terdaftar di
bursa tertentu dapat bervariasi, karena perusahaan dapat berpindah dari satu
bursa ke bursa lainnya atau ditambahkan atau dihapus dari daftar.
Singkatnya, perlu dicatat bahwa penambahan,
penghapusan, atau pergerakan perusahaan di bursa bukanlah faktor dalam
metodologi Indeks Komposit Garis Nilai, terlepas dari apakah perhitungan
Geometrik atau Aritmatika digunakan.
Pertukaran dalam Indeks Komposit Garis Nilai
adalah:
a) Burssa Efek Amerika.
b) NASDAQ.
c) Bursa Efek New York.
d) Bursa Efek Toronto.
2.6 Indeks
Berbobot Sama
Dua metode
untuk menghitung indeks harga berbobot adalah metode Laspeyres dan metode
Paasche. Keduanya berbeda hanya pada periode yang digunakan untuk
pembobotannya.Metode Laspeyres memakai bobot periode-acuan; artinya harga dan
jumlah awal barang-barang digunakan untuk mencari perubahan persen pada akhir
periodenya, entah dalam harga atau jumlah yang konsumsi, bergantung pada persoalannya,
Metode Paasche memakai bobot tahun-sekarang.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) adalah cerminan kegiatan pasar modal
secara umum. IHSG menggambarkan suatu rangkain informasi historis mengenai
pergerakan harga saham gabungan, sampai pada tanggal tertentu. DJIA juga seringkali menjadi tolak ukur atau patokan sebagai
ukuran real-time dari kestabilan dan kekuatan ekonomi
Amerika Serikat.
Indeks S&P
disusun berdasarkan nilai saham 500 perusahaan dengan kapitalisasi pasar besar
di bursa saham Amerika Serikat. Sekitar 80% nilai total pasar saham AS termuat
di indeks ini. Jumlah total perusahaan dalam Indeks
Komposit Garis Nilai berada di dekat 1681, dan terdiri dari perusahaan yang
sama dengan The Value Line Investment Survey, tidak termasuk dana tertutup. Pada harga dan jumlah awal barang-barang digunakan untuk
mencari perubahan persen pada akhir periodenya, entah dalam harga atau jumlah
yang konsumsi, bergantung pada persoalannya, Metode Paasche memakai bobot
tahun-sekarang.
3.2 Saran
Kami menyadari bahwa makalah kami masih
jauh dari kata sempurna, kedepannya kami akan lebih fokus dan details dalam
menjelaskan tentang makalah di atas dengan sumber-sumber yang lebih banyak yang
tentunya dapat di pertanggung jawabkan. Kami membutuhkan saran dari pembaca,
bisa berisi kritik terhadap makalah kami ini dan juga bisa untuk menanggapi
terhadap kesimpulan dari bahasan makalah yang telah di jelaskan.
DAFTAR
PUSTAKA
Coid007_mahadana. 2018.
Mengenal Indeks Dow Jones. Dikutip 1
Oktober 2020 dari www.mahadana.co.id: https://www.mahadana.co.id/2018/02/28/mengenal-indeks-dow-jones/.
https://forexstarmoon.com/kamus/djia-dow-jones-industrial-average/6455/
Wardana, Raditya. 2020.
Mengenal IHSG, Manfaat, dan Cara Hitung
[Plus Datanya]. Dikutip 1 Oktober 2020 dari lifepal.co.id: https://lifepal.co.id/media/ihsg/.
Redaksi. 2020. Mengenal Standard and Poor, Perusahaan
Pemeringkat Indeks Saham Global. Dikutip 1 Oktober 2020 dari
blog.pluang.com: https://blog.pluang.com/artikel/standard-and-poor-index/.
Ariyanti, Duwi Setiya.
2020. Pasar Obligasi Berpotensi Menguat
Terbatas, Investor Disarankan Wait and See. Dikutip 1 Oktober 2020 dari
market.bisnis.com: https://market.bisnis.com/read/20200108/92/1187989/pasar-obligasi-berpotensi-menguat-terbatas-investor-disarankan-wait-and-see.
Supiandi. 2013. Statistika. Dikutip 1 Oktober 2020 dari
terunesupiandi.blogspor.com: http://terunesupiandi.blogspot.com/2013/01/statistika.html.

Comments
Post a Comment